INDONESIA merupakan negara yang memiliki kekayaan akan rempahrempah dan tanaman obat. Kemahiran nenek moyang dalam meramu tanaman obat dan menemukan khasiat tanaman adalah sebuah warisan yang patut untuk dilestarikan. Pengetahuan khasiat dari tanaman obat oleh nenek moyang dikenal dengan sebutan jamu (Widiyanti, 2005). Jamu-jamu dari tanaman obat tersebut banyak dimanfaatkan seperti dimasa pandemi seperti ini yang digunakan untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadap virus Covid19, tanaman obat tersebut adalah saga.

Di kalangan masyarakat tanaman saga di percaya memiliki berbagai manfaat, pada bagian daun untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti sariawan, batuk dan sakit tenggorokan, hal karena daun saga memiliki banyak kandungan metabolit sekunder. Menurut penelitian Juniarti et al., daun saga mengandung flavonoid dan steroid pada daunnya. Senyawa flavonoid pada daun saga dapat berfungsi sebagai antioksidan. Peranan antioksidan merupakan hal yang penting dalam menahan efek radikal bebas yang berkaitan dengan kejadian penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes dan kanker yang terjadi oleh proses biokimiawi dalam tubuh (Juniarti et al., 2010). Sementara itu, pada penelitian Eriani et al., melaporkan bahwa kandungan flavonoid dalam senyawa tanaman memiliki mekanisme kerja dengan cara mengaktivasi sel natural killer (NK) untuk merangsang produksi interferon-γ (IFN-γ ). IFN-γ yang diproduksi oleh berbagai sel sistem imun, yang merupakan sitokin utama dari Macrophage Activating Cytokine (MAC) dan berperan dalam imunitas non spesifik seluler (Eriani et al., 2018).

Tidak banyak diketahui oleh masyarakat bahwa biji saga juga berpotensi sebagai immunomodulator. Menurut Akram et al., 2014 biji saga memiliki metabolit sekunder Squalene, trigonelline, glycyrrhizin, precabrine, hypaphorine, gallic acid, 5-beta cholanic acid, abrusic acid, abrine, abraline (Akram et al., 2014). Biji saga pada penilitian Bhatia et al., 2013 memiliki aktivitas agglutinin abrus pada kondisi native (NA) dan heat denatured (HDA) untuk proliferasi murinesplenosit, sekresi sitokin, aktivasi sel NK, dan proliferasi timbosit. Agglutinin native dan media kondisioner yang diinduksi HDA dari splenosit yang melekat dapat merangsang splenosit yang tidak patuh dan sebaliknya. Agglutinin yang didenaturasi panas mampu menginduksi aktivasi sel NK pada konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada konsentrasi NA, tetapi tingkat aktivasi sel NK lebih tinggi untuk NA. Proliferasi timosit oleh NA dan HDA juga diamati. Hal ini menunjukkan bahwa agglutinin abrus bisa menjadi imunomodulator potensial baik dalam kondisi native (NA) maupun heat denatured (HDA) (Bhatia et al., 2013).

Uji toksisitas yang dilakukan pada penilitian Bhatia et al., 2013 dosis abrin yang aman digunakan adalah 1,25 mg/ KgBB berturut-turut selama selama lima hari pada mencit normal menstimulasi respons humoral spesifik. Peningkatan jumlah diamati pada jumlah leukosit total, bobot limpa, timus, antibodi yang bersirkulasi, sel pembentuk antibodi, seluler sumsum tulang dan sel sumsum tulang positif alfa-esterase. Hasilnya menunjukkan bahwa abrin dapat mempotensiasi respon imun humoral dari inang (Bhatia et al., 2013). Untuk dosis daun saga yang aman digunakan yaitu 3 x 5 g daun/hari (Menkes, 2017).

Cara konsumsi daun Saga
Untuk mengonsumsi daun Saga sehari-hari, sebagai berikut:
1. Ambil daun Saga.
2. Cuci dengan air mengalir.
3. Rebus dengan 2 gelas air.
4. Minum hasil rebusan daun saga tersebut setiap pagi dan sore.

Akan tetapi sangat perlu diperhatikan cara untuk mengkonsumsi biji saga, karena jika cara pengolahannya salah, akan memberikan efek toksik atau racun. Disarankan untuk mengonsumsi biji saga yang sudah berupa produk dan sudah teruji keamanannya.

Adapun saran untuk mengonsumsi daun saga adalah:
1. Rebus terlebih dahulu biji saga dengan daun pandan sampai biji saga benar-benar matang.
2. Setelah kulit biji saga terkelupas, pisahkan dengan isinya.
3. Masukan biji yang sudah dipisahkan sampai bubuk dan blender dengan air mineral sampai menjadi seperti bubur.
4. Kemudian saring sampai tersisa sarinya.
5. Hasil sarinnya di masukan ke dalam panci dan tambahkan vanili, gula dan garam diaduk selama 5 menit, jika terdapat buih, angkat dan buang buihnya.
6. Jika sudah, susu nabati biji saga dapat dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA:
Akram, M., Hamid, A., Khalil, A., Ghaffar, A., Tayyaba, N., Saeed, A., Ali, M., and Naveed, A. Review on medicinal uses, pharmacological, phytochemistry and immunomodulatory activity of plants. International Journal of Immunopathology and Pharmacology, 2014, 27(3): 313-319.
Bhatia, M., Siddiqui, NA., and Gupta, S. Abrus precatorius (L.): An evaluation of traditional herb. Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 2013, 3(4): 3295-3315.
Eriani, K., Ainsyah, Rosnizar, Yunita, Ichsan dan Azhar, A. Uji efek imunostimulan ekstrak metanol daun flamboyan [Delonix regia (Boj. ex Hook.) Raf.] terhadap peningkatan sel-sel imun pada mencit strain swiss-webster. Jurnal Natural, 2018, 18(1): 44-48.
Juniarti, Osmeli, D., dan Yuhemita. Kandungan senyawa kimia, uji toksisitas (Brine shrimp lethality test) dan antioksidan (1,1-diphenyl-2-pikrilhydrazyl) dari ekstrak daun saga (Abrus precatorius L.). Makara Journal of Science, 2010, 13(1): 50-54.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Hk.01.07/ Menkes/2017. Tentang formularium ramuan obat tradisional Indonesia. Menkes RI. 2017.
Widiyanti, H. 2005. Sejarah perkembangan industri jamu tradisional dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial masyarakat gentasari kecamatan kroya kabupaten cilacap tahun 1990-2002. Perpustakaan Universitas Semarang. Semarang.

Tim Penyusun:
Amalia Tasa Awanis, Dinda Nur’ayuni Wahyudi, Dinda Gusti Mahdalena, dan Maulana Yusuf Alkandahri; Fakultas Farmasi, Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang, Jawa Barat.

Sumber : Bintangnews, Edisi April 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *